Archive for the ‘Fiction’ Category

h1

Cocoknya dikasih judul si Pemalas atau si Pengkhayal?

December 5, 2009

Sepertinya walau udah banyak yang tau kalau penyakit malas itu gak ada obatnya seperti kapsul yang biasa kita minum saat sakit beneran dan alat- alat canggih yang seperti laptop untuk meringankan tugas kita ngetik or mengerjakan sesuatu, tetep aja masih banyak orang yang nanya dan berharap obat menghilangkan rasa malas itu ada.

Ehm… coba ya kalau ada mesin yang dapat membuat manusia itu bisa rajin, gue akan jadi pembeli yang pertama.

hualaaah…. kok malah menghayal sich?

lah… biarin…! siapa tau khayalan gue bisa jadi kenyataan. Cuz katanya sebelum pesawat itu ada…si pembuatnya itu melakukan ritual mengkhayal dulu. Itu katanya, lho! Untuk saat ini penyakit malas hanya bisa diobati dengan banyak-banyak mendengarkan ceramah-ceramah agama, or mendengarkan pembicara motivasi ngoceh, atau juga membaca buku-buku yang bisa membangkitkan semangat. Nah semangat itulah yang membuat kita rajin. kalau semangat kita hilang ya timbullah rasa malas.

Waduh…lu gimana sich? orang malas kok malah disuruh dengerin yang begituan, disuruh baca buku-buku pulak… yaaaaaa…tambah muales laaaah.

Oya…ya…ya…jalan satu-satunya ya kudu dicekokin tips-tips pembangkit semangat. Kalau gak mau yaaaa… DIPAKSA!!!

Itu namanya PEMAKSAAAAN…! Gak boleh….!

Siapa bilang gak boleh? Memaksa pemalas supaya jadi rajin itu merupakan suatu kewajiban. hal ini udah tertuang dalam Undang-Undang Kesuksesan. Mau sukses kan lu?

Ya…mau lah! tapi kata lagu dangdut bilang, kalau dipaksa-paksa, sakit rasanya…!

Peribahasa bilang, sakit-sakit dahulu, senang-senangnya sekarang…ups! kemudian maksudnya. ya udah lu bersakit-sakit dulu sana… gue mo mengkhayal dulu…sapa tau bisa nemuin ramuan penangkal kemalasan. Bye…!

h1

1.000 JAWABAN untuk SATU PERTANYAAN

July 7, 2009

By. Chesya Rindu Tarunanegara

Kehidupan itu memiliki banyak pertanyaan yang perlu dicari jawabannya. Untuk satu pertanyaan, biasanya tak cukup dijawab dengan satu jawaban saja. Entah berapa banyak jawaban yang mampu memberikan kepuasan terhadap satu pertanyaan tersebut.

Tidak salah pabila seseorang hanya memiliki satu dari sekian jawaban yang ada. Tapi akan menjadi keliru apabila ‘menutup mata’ dari jawaban yang berbeda.

“Apa yang kau cari dikehidupan ini?”

Kita boleh saja menjawab “aku sedang mencari cinta.” Tapi yang lainnya belum tentu menjawab dengan jawaban yang sama dengan kita.

“Buku itu apa,sich?” Tanya seorang professor terhadap mahasiswa yang akan mengantongi ijasah S2-nya.

Seluruh mahasiswa yang ada dalam ruangan tersebut terheran-heran mendapat pertanyaan yang tidak bermutu itu. Karena mereka menganggap pertanyaan itu tidak selevel dengan diri mereka yang akan membawa pulang gelar S2. Kemudian mereka malah mengira professor itu hanya menguji kecerdasan mereka saja. Yah…bisa jadi ya.

Profesor itu pasti sudah tau kalau buku itu suatu benda berbentuk kotak yang terdiri dari lembaran kertas yang berisi tulisan-tulisan.

“Menurut saya, buku adalah jiwa saya!” Sahut si A.

“Kalau menurut saya buku adalah jalan saya menuju masa depan.” Kata si B tak mau kalah.

“Bagi saya buku tak seindah itu. buku itu bagai bawang merah yang sering membuat saya menangis setiap kali membacanya.” Jawab si C sedih.

Dan masih banyak lagi jawaban lain yang berbeda.

Plok…plok…plok….!!! Suara tepukan tangan professor itu mengiringi jawaban terakhir mereka. “Kalian memang luar biasa, sebenarnya beberapa dari jawaban-jawaban kalian tadi, ada yang sama sekali belum pernah terpikirkan oleh saya dan saya telah belajar dari kalian.”

Para mahasiswa itu saling berpandangan, tak percaya dengan kejujuran yang disampaikan oleh professor itu. Dan dalam hati, mereka juga saling memuji jawaban-jawaban luar biasa dari teman-teman mereka.

Tak ada seorangpun yang boleh merasa telah mengetahui semuanya sehingga tak perlu lagi bertanya, karena keegoisan tak akan mampu membuat kita menjadi bisa.

Tak ada seorangpun yang boleh bangga dengan apa yang sudah mereka tau, karena dengan bertanya kita dapat tau…dengan bertanya kita akan menemukan sesuatu yang baru.

h1

Karena Gue Gemini

June 29, 2009

adved_1245814702Note:
Cerpen ini bukan karya gw. Tapi gw tergila-gila ama cerpen ciptaan Sheila Sardi ini. Cuz…, gw banget. Ternyata isinya mirip-mirip beda dengan apa yang udah gw tulis.
Gw nemuin cerpen ini Kamis, 25 June 2009 di Web Aneka Yess!
Kalimat yang bercetak tebel, adalah kalimat yang mencermintakan diri gw, yang pernah ada dalam diri gw dan hati gw. Thank you Sheila.

Nama gue Gemini. Gue lahir di bulan Mei. Gue tipe cewek periang dan pembawa kegembiraan. Prinsip gue, nggak akan pernah ada kata menyerah! Dan keinginan gue always keep smile, walau gue lagi sedih. Dan be the best, walau gue sedang terjatuh.
Di mana pun gue berada, gue selalu ingin jadi pembawa kegembiraan bagi semua orang
. Gue nggak pernah ingin menjadi beban bagi orang lain. Gue ingin setiap orang yang berada di dekat gue merasa happy.
Nggak tahu kenapa? Gue melihat cinta sebagai sesuatu yang sangat rumit. Gue suka proses pedekate yang pelan, anggun, dan terpelajar. Siapa yang berani nembak langsung, pasti akan gue tendang. Orang bilang, gue ini tipe orang yang maunya serba romantis dalam urusan cinta. Bahkan, banyak yang menjuluki gemini tipe nggak setia, karena bila ada yang sedikit nggak sreg di hati gue, mata gue sudah pasti cari yang lain. Apakah itu suatu kesalahan? Padahal gue hanya ingin yang sempurna. Gue akui, gue memang sedikit membingungkan. Apalagi kalau banyak pilihan yang bagus.
Meski gue punya kepribadian gembira, dalam urusan cinta, gue lebih banyak dingin. Gue bukan tipe emosian, walaupun sangat peka dan gampang terluka. Satu yang sulit dari gue, gue susah banget mengungkapkan perasaan dan gue juga butuh perhatian yang tulus.

Dulu… gue pernah jatuh cinta pada cowok Sagitarius. Anaknya cakep. Secara fisik, dia cowok sempurna di mata gue. Walaupun gue tahu Sagitarius sang jiwa petualang, gue sangat mencintainya. Kami sepakat untuk merenda benang kasih.

Walaupun sudah dari awal gue tahu Sagitarius yang gue cintai tipe seorang penguasa, gue tetap tidak peduli! Tapi, setelah beberapa bulan perjalanan cinta kami, gue merasa terbelenggu dengan sifat egoisnya. Padahal gue Gemini sang jiwa pemberontak. Tapi entahlah… dengan Sagitarius ini, gue takluk. Apakah karena gue telanjur mencintainya dan memberikan hati gue sepenuhnya?

Sebulan hubungan kami, Sagitarius mengkhianati gue. Dia menjalin cinta dengan Taurus yang lebih segalanya dari gue. Gue sakit hati banget saat mengetahuinya, bahkan gue pernah melihat dengan mata kepala gue sendiri, saat Sagitarius bermesraan dengan Taurus di depan mata gue. Gue sakit hati banget!

Tapi gue nggak tahu kenapa gue bisa menerima Sagitarius kembali, setelah hubungannya dengan Taurus kandas ditengah jalan hanya dalam hitungan minggu. Gue sungguh tidak bisa menolak, saat Sagitarius meminta gue untuk kembali padanya. Karena jujur… betapapun sakit hati gue atas pengkhianatan yang pernah Sagitarius lakukan, ternyata gue tetap tidak bisa membencinya.

Sebenarnya, jiwa gue berontak. Ada satu keinginan gue untuk membalas dendam atas pengkhianatan yang pernah Sagitarius lakukan pada diri gue. Gue putuskan menerima Sagitarius kembali, tapi dalam pikiran gue, gue punya rencana busuk. Gue akan buat Sagitarius cinta setengah mati sama gue, setelah itu gue akan campakkan dia di lembah yang paling dalam. Agar hati gue bisa tenang. Gue putuskan kembali menjalin cinta dengan Sagitarius.

Hari yang kami lalui begitu manis dan gue yakin, Sagitarius sudah terjebak dalam permainan yang gue buat. Dia cinta bener sama gue, gue bisa tahu itu, karena sinar matanya tak akan pernah bisa berdusta. Gue lihat lewat pancaran matanya ada gue di sana, ada pelangi cinta di matanya ada gue di hatinya.

Setahun perjalanan cinta kami, tanpa gue sadar, gue kenal Leo yang romantis.

Leo mengulurkan cinta yang lebih indah buat gue. Cinta yang tak pernah ada dalam diri Sagitarius sang jiwa petualang. Dan menurut penilaian gue, Sagitarius kalah satu tingkat di bawah Leo. Akhirnya, tanpa gue sadari, gue menduakan cinta Sagitarius.

Gue jalan sama Leo. Bersama Leo, gue merasa terlindungi. Leo sangat menyayangi gue, dia berjanji, nggak akan pernah ninggalin gue. Gombal! Gue tahu semua cowok tuh memang suka ngomong gombal. Tapi, gue nggak peduli, gue tetap jalan sama Leo.

Bau buah durian memang nggak akan pernah bisa disembunyikan. Akhirnya, Sagitarius tahu hubungan cinta gue sama Leo. Dia marah tapi ganti gue yang marah. Bukankah dia juga pernah buat kesalahan yang sama? Dia pernah menduakan cinta gue dengan menjalin cinta diam-diam dengan Taurus dan itu sangat menyakitkan gue.

Sagitarius saat itu diam seribu bahasa, mau ngomong apa? Toh, memang begitu kenyataannya, dia pernah berbuat kesalahan, kenapa gue nggak bisa?

Suatu hari, gue terus terang pada Leo tentang hubungan gue dengan Sagitarius. Tapi di luar dugaan, Leo bilang dia nggak keberatan gue menduakan cintanya karena dia yakin gue tulus mencintai Leo. Gue jadi merasa bersalah. Kenapa gue bisa setega ini?

Karena dendam di hati gue atas pengkhianatan yang pernah Sagitarius lakukan dan tidak bisa terhapus, gue jadi menyakiti hati Leo. Gue merasa sedih sekali saat menyadari ternyata gue terjebak dalam permainan yang gue buat sendiri.

Gue mencintai keduanya. Apa yang ada dalam diri Sagitarius tidak ada pada diri Leo, begitu juga sebaliknya apa yang ada pada diri Leo tidak bisa gue dapat pada diri Sagitarius. Keduanya saling melengkapi, ah… andai Sagitarius dan Leo adalah pribadi yang satu, mungkin gue nggak akan sebingung ini. Sungguh, gue nggak bisa melepaskan Leo dengan segala pesonanya, tapi gue juga terlalu mencintai Sagitarius hingga tak bisa melepasnya.

Gue nggak bisa menyakiti hati Leo, tapi juga nggak akan pernah sanggup melepas Sagitarius. Gue benar-benar kena dilema di antara dua pilihan.
Gue terjatuh dalam kebimbangan, gue berada di tengah-tengah pilihan yang sama-sama mempunyai pesona yang begitu kuat. Gue seakan disuruh memilih buah si malakama. Dimakan… gue akan menyakiti Sagitarius. Tapi bila tidak dimakan, gue akan menghancurkan hati Leo.

Apa yang harus gue lakukan pada posisi ini? Pikiran gue seakan buntu. Butuh waktu yang lama untuk mengambil sebuah keputusan yang nantinya akan menyangkut kebahagiaan hati gue.

Pada akhirnya, gue lepas keduanya. Biarlah hati gue hancur karena gue nggak mau kebimbangan menyelimuti perasaan gue. Gue Gemini… gue mudah jatuh cinta tapi gue juga mudah melepas cinta. Tapi, tidak semua Gemini sama, gue adalah Gemini yang berbeda. Gue adalah pribadi yang mengagungkan arti sebuah cinta. Bagi gue, cinta adalah sebuah perasaan agung yang merupakan anugerah dari Tuhan dan tidak bisa dijadikan permainan.

Gue sulit jatuh cinta, tapi sekali jatuh cinta, gue nggak akan pernah bisa melupakannya. Patah satu tumbuh seribu… ternyata itu tidak ada dalam kamus gue. Setelah sekian lama gue baru menyadari, ternyata gue hanya mencintai satu pribadi. Pribadi yang pernah dekat dengan gue, pribadi yang pernah hadir dalam kehidupan gue, pribadi yang mampu menggugah hati gue. Pribadi yang pernah ada dan akan selalu gue cintai, dan pribadi itu adalah Sagitarius.

Sagitarius bagaimanapun kita pernah bersama. Merangkai sebuah cerita cinta walaupun tidak semanis yang kita harapkan. Di mana pun sekarang keberadaan elo. Kalau elo baca tulisan ini, gue ingin elo tahu. Cinta gue terlalu kuat untuk dimusnahkan, karang hati gue terlalu tegar untuk dihancurkan, cinta gue nggak akan pernah terhapus waktu, karena gue adalah Gemini.

h1

Langkahku Bimbang

May 15, 2009

Aku tak tahu bagamaina melangkah dengan semestinya

Saat ku melangkah lebih pelan
Aku berada pada posisi paling belakang

Saat ku berlari sangat kencang
Tiba-tiba aku terjatuh dan terlempar jauh ke dalam jurang

Lalu aku harus bagaimana?

Sedang-sedang saja?

Sedang-sedang saja juga tak membantuku meraih posisi yang aku inginkan

h1

Maaf Kalau Penampilan Gw Membuat Elu Terangsang

April 30, 2009

Alhamdulillah hari ini usia gw udah pas 17 tahun. Tadi saat buka kado, gw dapet sesuatu benda yang tidak pernah gw dapet sebelumnya. Apakah itu? Ya… apalagi kalo bukan KTP yang mencantumkan foto, nama, dan tandatangan gw.

Tandatangan? Oh..iya..gw baru inget…mama tempo hari minta gw tandatangan disecarik kertas kosong. Oh…ini tho maksudnya?

Duch senengnya… akhirnya gw gak dianggap anak kecil lagi ma mama.
*

“Kak…, ntar malam kita dugem yuk!” Gw ngajak sepupu gw yang katanya doyan dugem itu. “Tenang aja…!” Kata gw lagi sambil menunjukan KTP gw, saat melihat kakak sepupu gw mau mengutarakan penolakan yang kedua kalinya. Cuz…dulu gw juga pernah pengen ikut dia dugem tapi dianya gak mau ngajak, cuz takut ada razia dan sementara gw gak punya KTP en masih dibawah umur banget.

“Emank boleh ma nyokap lu?”
Gw mengangguk senang
**

Malam harinya gw mengenakan baju berwarna ungu dan sangat menarik. Baju yang seharusnya lebih cocok dikatakan atasan yang lebih pantas dipadukan dengan celana panjang sebagai bawahannya. Tapi yang gw kenakan malam ini hanya atasannya saja. Kebayang gak sich betapa seksinya gw, memperlihatkan sebuah kemolekan tubuh seorang perawan yang aduhai.
ehm

“Dek…, lu pura-pura jadi pacar gw ya saat gw kenalkan ke temen-temen gw ntar!”
Tanpa bertanya alasannya, gw langsung mengiyakan saja permintaan sepupu gw yang satu ini.

***

Suasana di diskotik rame banget, pelit pula ma cahaya lampu. Padahal saat gw perhatikan diskotiknya gak kekurangan lampu kok. Mana banyak asap rokoknya lagi, membuat kepala gw jadi sedikit pusing karena belum terbiasa.

Gw, kakak sepupu, dan temen-temennya asyik bersenda gurau sambil menikmati minuman yang telah dipesan. Gw memesan orange juice. Rasanya seger banget, sedikit mampu menetralisir udara yang pengap dan sedikit panas.

Tiba-tiba ada sosok lelaki sedikit berumur menghampiri kami. Kira-kira umurnya sudah 40 tahunan.

“Cewek manis…temani saya saja,yuk! Saya lebih punya banyak uang dari pada bocah ingusan yang sekarang sedang bersama kamu ini.”

Spontan kakak sepupu gw ini naik pitan. Dia nyaris menonjok wajah laki-laki tak tau diri itu. Tapi untung gw bisa mencegahnya.

“Maafkan saya,pak! Saya telah berpenampilan yang dapat mengundang nafsu bapak…saya ke diskotik ini hanya ingin menyalurkan hobi dance saya, hanya itu. Sebaiknya bapak mencari wanita lain yang punya tujuan yang sama dengan bapak.” tolak gw dengan menahan malu.

Tapi syukurlah bapak itu tanpa berba-bi-bu lagi langsung angkat kaki dari hadapan gw dengan membawa sebuah wajah yang penuh dengan rasa malu campur kemarahan. Mungkin dia baru pertama kali menerima sebuah penolakan dari seorang gadis seperti gw. Ah…I don’t care, lah!

“Lu ngapain ngelarang gw nonjok muka bajingan tua itu?”
“Ya…gw juga yang salah pake baju ginian.”
“Ngapain juga pake baju seksi banget gitu?”
“Ya… maaf, kak!”
“Tapi…, walau lu pake baju muslim juga, pasti ada aja yang berpikiran macem-macem ma lu. Secara lu ke diskotik!”
“Ya…juga sich, kak. Cuz mereka slalu berpikir cewek baik-baik gak akan membuang waktunya ketempat beginian. Kalo pun ada cewek berjilbab yang datang kesini, pasti mereka juga tetap berpikir jilbab cewek itu hanya sebagai menutupi kebusukannya saja. Ya…begitulah opini masyarakat. Mereka sudah nge-judge dugem itu sebagai perbuatan yang kurang terpuji. Walau kita gak ngapa-ngapain disini, Cuma nge-dance en minum segelas orange juice, tetap aja mereka gak mau tau.”

“Trus… kalo udah tau kaya gitu, ngapain lu ikut gw kesini?”
“Maklum lah,kak! ABG yang penasaran pengen ngebuktiin sendiri kebenarannya.”
“So…sekarang udah berhasil ngebuktiin kan, masih mau kesini lagi?”
“Ehm…liat ntar aja dech…!” He… 😀