Archive for January, 2009

h1

Permen is Manieeezzzzz

January 23, 2009

Berbanding terbalik dengan rasanya yang manis dan bentuknya yang mungil…!

Kalo dulu permen menjadi musuh terbesar gigi, sekarang di jaman yang modern ini tidak cuma gigi, permen juga dapat mengobarkan api kemarahan pada ibu-ibu rumah tangga yang kerap berbelanja di supermarket_pasar elit tanpa becek.

Ya… seperti yang gw baca di tabloid Nova edisi 1091/XXI 19 – 25 Januari 2009, ada beberapa ibu rumah tangga yang dikabarkan tidak terima kasir supermarket ternama memberi uang kembalian dengan sebuah – dua buah permen. Yang seharusnya dibalikin Rp. 1.700,- malah dikasih selembar uang ribuan, sekeping logam 500-an dan dua buah permen.

Mereka yang gak terima dikasih kembalian permen ini, ada yang berucap kurang-lebih seperti ini

“Ya…sudah, permen yang dijakan kembalian tadi saya kumpulin sampek banyak, trus kalo saya berbelanja lagi bayarnya pake permen aja.”

Sambil mengernyitkan kening, gw langsung bilang “kok bisa,ya?” Soalnya di Banjarmasin dan di kota – kota yang pernah gw kunjungi, gw gak pernah denger ibu-ibu ngedumel mempermasalahkan hal yang menurut gw sepele ini. Dan gw juga sering dapet kembalian permen kalo lagi berbelanja, baik itu berbelanja di swalayan ataupun toko-toko kecil deket rumah. Ya… gw dan keluarga gw malah seneng dikasih permen. Cuz:
1. itung-itung membuang nafas tak sedap walau untuk sementara,
2. males bawa recehan, kecuali recehan Rp.500,- yang masih bisa digunakan untuk bayar parkir, dan
3. Abis permen manies,sich.

Kecuali kalo seharusnya kembaliannya Rp.1.000,- lebih trus kembalinya 10 permen baru gw gak terima.

Tapi setelah gw pikir lagi, gak semua orang mempunyai sifat yang sama ama gw dan keluarga gw. Jadi gw gak berhak nyalahin mereka apalagi ngatain mereka childish..

Sekedar mereka-reka, ya. Mungkin mereka yang bersikap demikian gak suka banget ama yang namanya permen_takut giginya bolong atau yang udah bolong takut bolongnya tambah banyak. Atau juga karena mereka menganggap pemerintah belum menetapkan permen sebagai alat tukar yang sah. Mungkin mereka taunya alat tukar yang sah itu hanya uang, doank. Ehm…kalo kartu kredit, ATM, check, dll alat tukar juga,kan?

Kalo Managemen swalayannya… menurut gw gak pantes juga disalahkan ataupun dituntut. Soalnya gw dkk juga pernah ngasih kembalian permen saat kantor, kampus, dan sekolah gw ngadain acara Bazar. He3x…jadi jangan tuntut kami ya! Abis gak punya uang receh,sich!

Satu lagi…, ada sich yang membuat gw kesal sama managemen swalayan. Gw kesal kalo beli barang, misalnya harganya Rp. 10.990,- kan di Indonesia gak ada uang Rp.90,-. Kalo gw kasih Rp.11.000,- mereka juga gak bisa ngasih kembalian Rp.10,- Eh… ujung-ujungnya ya dibulatin Rp.11.000,- coba dibulatin Rp.10.950,- gw kan gak bakal tekor Rp.10,- malah untung Rp.40,-. Trus kalo Rp.40,- gw kumpulin kan bisa banyak juga nantinya. Tapi, kalo dalam sebulan gw belanja sebanyak 1000 kali berarti gw tekor Rp.10,- setiap kali belanja. Dan berarti juga dalam sebulan gw bisa tekor Rp.10.000,- Kan sayang.
Makanya coba dunk kasih harga itu sesuai dengan nominal uang yang ada. Tq!

Advertisements
h1

JILBAB MENANTI AJAL

January 7, 2009

Ya… Allah, Ampuni hamba-Mu ini.

Baru saja hamba membaca sebuah KLIK majalah islam yang disalah satu rubriknya menceritakan seorang muslimah yang sadar akan kemulian berjilbab. Wanita itu memperjuangkan jilbabnya dengan melawan siapapun yang menghalanginya.

Satu kalimat yang membuat hamba merenung malu dan takut,

“Bagaimana bila ajal datang, saya sedang dalam keadaan tidak berjibab?”

Hamba takut dengan janji – janji-Mu akan neraka yang pernah beberapa kali hamba dengar dari orang – orang terdahulu, lihat dari gambar – gambar, baca dari terjemahan al-quran dan sebagainya. Bagaimana jika engkau menepati janji – janji itu?

Ya… Allah, sebenarnya memakai jilbab tak sesulit saat hamba memakai cincin yang tak bisa melingkar dijari karena kekecilan. Tapi mengapa sangat berat, seperti hamba membawa segalon air minuman, bahkan lebih berat daripada itu?

Apa jilbab itu hanya untuk orang yang mulia? Yang tak peduli dicela oleh dunia fashion dan sanggup menerima beribu rintangan lainnya demi mengharap ridho-Mu semata?

Atau apa jilbab itu juga untuk orang yang ingin menutupi kekurangan yang ada dalam diri mereka? Kekurangan akan ketidaksempurnaan fisik atau akan dosa – dosa gemerlap kehidupan dunia?

Atau…,

Entahlah…, Hamba pusing memikirkannya.

Ya…Allah, jika hari ini hamba bukan manusia-Mu yang mulia, jadikanlah suatu saat…, jauh hari sebelum ajal tiba, jilbab-Mu telah menutup kepala hamba dan membuka hati hamba selebar dunia untuk menampung samudra cahaya-Mu nan indah tiada tara.